copas dari milis

Wayang Suket, Museum Nasional, 3 Juli 2010

"PANDAWA DADU" KOMUNITAS WAYANG SUKET dan FORTUGA ITB

dalang : SLAMET GUNDONO
musisi karawitan : Sri Waluyo, Sutrisno, Kukuh Widi Asmoro, Edi Kurniawan, Joko Nugroho
pemain : Slamet Gundono, Hanindawan, Dorothea Quin, Fortuga
produser : Gelar

Minggu 3 Juli 2010, Museum Nasional - 13.00 WIB
HTM Rp. 10.000,- (sudah termasuk masuk Museum)


Dalang Slamet Gundono dengan Komunitas Wayang Suket-nya akan menggelar PANDAWA DADU pada 3 Juli 2010 di Museum Nasional pada pukul 13.00 WIB. Selama ini, Slamet Gundono dikenal sebagai dalang nyeleneh, dan selalu kritis dalam menyampaikan karya-karya agar senantiasa dapat dinikmati dengan segar dalam konteks kekinian.

Dalam pertunjukan ini, Slamet Gundono akan berkolaborasi dengan FORTUGA ITB, yaitu forum alumni angkatan'73 ITB dimana dalam kesempatan ini pula sedang merayakan hari jadinya yang ke-37 dengan menggelar rangkaian acara seni budaya hingga amal yang dilaksanakan di Museum. Selain penampilan khusus dari Komunitas Wayang Suket, pergelaran ini akan didukung pula oleh para alumni ITB '73 dari berbagai latar belakang profesi dan diperkuat pula oleh para aktor/penari/musisi yang juga akademisi jebolan ISI Surakarta.

Pandawa Dadu; 'Kisah Pertaruhan Harga Diri Pandawa Dadu' adalah salah satu episode dalam naskah epik klasik Mahabharata, yang berkisah tentang bagaimana negara dipertaruhkan oleh dua bersaudara yang bermusuhan, Pandawa dan Kurawa, pada sebuah permainan dadu. Pandawa
yang dikenal sebagai tokoh putih, ternyata tak selalu suci. Keputusan Yudistira untuk mempertaruhkan Drupadi, istrinya, tak dihalangi oleh adik-adiknya, bahkan oleh para tetua seperti Bhisma, yang juga menghadiri pertemuan itu. Saat Drupadi ditelanjagi oleh Dursasana, saat itulah hak azasi manusia telah mati, ditandai oleh kesewenangan pada kaum yang lemah dan tak berdaya. Dan tanpa kita sadari, perenggutan hak azasi manusia sudah berlangsung sepanjang usia peradaban kita.

Naskah klasik Mahabharata yang diangkat sebagai rujukan cerita ini tetap terasa relevan dengan konteks masa kini, karena sarat dengan nilai dan pesan-pesan sosial. Cerita ini dilontarkan Slamet Gundono dan Fortuga kepada publik sebagai refleksi negeri Indonesia yang kita cintai saat ini.

Konsep Garapan
Di dalam karya ini, dalang Slamet Gundono mengangkatnya dalam bentuk teater tradisi rakyat yang bersifat sampakan, dimana berbagai unsur wayang, teater, musik, tari diramu menjadi satu kesatuan, tanpa adanya jarak dengan penonton karena penonton juga merupakan bagian dari pertunjukan tersebut. Musik digarap dengan gaya khas pesisiran yang kental dengan spirit kerakyatan yang egaliter, bebas, tak kaku, membuka ruang dialog dengan berbagai unsur. Disinilah berpadu antara yang tradisi dan pop, rural dan urban, dan seterusnya. Pandawa Dadu adalah komedi satir yang digarap dengan serius, sarat dengan refleksi dan kritik sosial yang relevan dengan kondisi saat ini. Sehingga sajian kolaborasi ini terasa kian segar disaksikan.

Sinopsis
Pada suatu hari, Pandawa bersaudara diundang oleh keseratus orang Kurawa untuk bermain dadu di kerajaan Astina. Sengkuni, paman dari para Kurawa, ternyata sudah mengatur permainan dadu tersebut agar Kurawa dapat bermain dengan Yudistira, kakak tertua dari Pandawa bersaudara yang dikenal jujur, putih dan suci hatinya.

Namun karena kecurangan Kurawa, di akhir permainan Yudhistira kehilangan seluruh kekayaannya, diikuti dengan seluruh kerajaannya. Hingga akhirnya ia mempertaruhkan Drupadi, istrinya, menjadi budak para Kurawa, dengan harapan mendapatkan kerajaannya kembali. Toh, Pandawa tetap kalah. Drupadi berulangkali mempertanyakan hak Yudhistira untuk mempertaruhkan dirinya saat dia sendiri telah kehilangan kebebasannya. Kisah ini merupakan sebuah cermin kehidupan kita di dunia modern dengan berbagai permasalahannya, yang ternyata masih tak beranjak dari pertaruhan demi pertaruhan, dari penelanjangan demi penelanjangan hak azasi manusia sepanjang peradaban kemanusiaan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

penggemar jalan-jalan